Tari Legong di Bali

Tari Legong adalah tarian klasik, yang juga merupakan salah satu ikon seni pertunjukan yang lekat dengan citra pariwisata Bali, dan kerap menjadi bagian penting dalam perjalanan budaya para wisatawan. Pulau Bali sejak lama dikenal tidak hanya karena panorama alamnya yang menawan, tetapi juga karena kekayaan seni dan tradisinya yang sangat beragam.

Ketika mengikuti tour atau liburan ke Bali, wisatawan biasanya akan diajak mengenal berbagai bentuk seni tari yang khas, mulai dari pertunjukan sakral tari Barong yang menggambarkan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, hingga tari Kecak yang terkenal dengan paduan suara massal yang penuh energi. Semua tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya yang menjadi daya tarik utama pariwisata di Pulau Dewata.

Bagi masyarakat Bali, seni tari merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, erat kaitannya dengan upacara keagamaan, adat istiadat, serta perayaan budaya. Hal inilah yang membuat pengalaman menyaksikan seni tari di Bali terasa berbeda, karena wisatawan tidak hanya melihat sebuah pertunjukan seni panggung, tetapi juga menyelami filosofi dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Dalam banyak paket tour liburan, wisatawan diajak menikmati suguhan tarian di panggung terbuka, pura, maupun sanggar seni, untuk menikmati pementasan tarian tradisonal Bali, seperti Barong, Kecak ataupun Legong, sehingga menghadirkan nuansa yang autentik dan memikat.

Di tengah ragam tarian yang ada, Tari Legong memiliki tempat tersendiri karena dianggap sebagai tarian klasik dengan tingkat estetika tinggi, dengan gerakan penarinya yang lembut namun penuh detail, diiringi tabuhan gamelan yang harmonis, menciptakan pesona yang mampu membuat wisatawan terpukau. Tidak mengherankan bila pertunjukan Tari Legong kerap dijadikan agenda khusus dalam jadwal liburan di Bali, bersanding dengan tari Barong dan Kecak sebagai atraksi budaya yang wajib disaksikan.

Dan dalam halaman ini akan kami ajak Anda untuk mengenal tari Barong inilebih dalam, berikut latar belakang sejarah munculnya tarian ini, nilai sakral yang terkandung, makna filosofis, busana atau pakaian yang indah, serta jenis tarian yang memikat bagi wisatawan.

Tari Legong di Bali

Apa Itu Tari Legong?

Tari Legong adalah salah satu tarian klasik Bali yang memiliki ciri khas gerakan lemah gemulai, penuh ekspresi wajah, serta diiringi tabuhan gamelan semar pagulingan yang khas. Tarian ini umumnya dibawakan oleh dua orang penari wanita yang masih belia, dengan tambahan seorang penari Condong sebagai pembuka cerita. Penari Condong berperan memberikan pengantar kisah sebelum masuk ke inti tarian, sehingga keberadaannya sangat penting dalam struktur pertunjukannya.

Dalam catatan kuno, istilah Legong sebenarnya tidak pernah dijumpai. Para ahli memperkirakan bahwa istilah ini terbentuk dari gabungan dua kata, yakni “leg” dan “gong”. Kata leg berarti gerak tari yang luwes atau lentur, yang menjadi ciri utama tarian ini. Sedangkan gong merujuk pada instrumen gamelan sebagai pengiring. Dengan demikian, dapat dimaknai sebagai gerakan tari yang terikat dan berpadu dengan irama gamelan.

Keunikan Tari Legong tidak hanya terletak pada gerakannya yang penuh detail, seperti kedipan mata, anggukan kepala, dan lenggokan tubuh yang anggun, tetapi juga pada busana berwarna cerah serta hiasan kepala berkilauan. Semua unsur itu membuat Tari Legong menjadi salah satu tarian paling indah di Bali, sekaligus menarik perhatian wisatawan dalam setiap tour dan wisata budaya di Pulau Dewata.

lanjut baca; pementasan tari Bali untuk wisata

Sejarah Tari Legong Bali

Tari Legong termasuk salah satu jenis tari klasik Bali yang memiliki akar sejarah panjang, erat kaitannya dengan kehidupan istana pada masa lampau. Pada awal perkembangannya, tarian ini hanya dapat dinikmati kalangan bangsawan sebagai hiburan eksklusif di dalam lingkungan keraton. Para penari Legong yang tampil di hadapan raja merasakan kebanggaan tersendiri, sebab tidak sembarang orang bisa masuk ke istana untuk menyaksikan pertunjukan ini.

Menurut catatan dalam Babad Dalem Sukawati, terciptanya Tari Legong berawal dari mimpi Raja Sukawati, I Dewa Agung Made Karna (bertakhta 1775–1825 M). Saat melakukan semedi di Pura Jogan Agung, Desa Ketewel, beliau bermimpi melihat para bidadari menari indah dengan hiasan kepala emas. Setelah sadar dari semedinya, Sang Raja kemudian memerintahkan Bendesa Ketewel untuk membuat sembilan topeng sesuai wajah bidadari dalam mimpinya, sekaligus menata tarian yang menyerupai apa yang ia lihat. Dari sinilah lahir sebuah pertunjukan sakral yang disebut Sang Hyang Legong, dimainkan oleh dua penari perempuan di Pura Jogan Agung.

Seiring waktu, tarian ini menarik perhatian kerajaan lain di Bali. Diceritakan bahwa kelompok tari Nandir dari Blahbatuh pernah mempersembahkan pertunjukan yang menyerupai Sang Hyang Legong di hadapan Raja Gianyar, I Dewa Agung Manggis. Terkesan dengan keindahannya, beliau kemudian memerintahkan dua seniman dari Sukawati untuk menyusun ulang gerakan tari tersebut menggunakan dua penari wanita. Dari sinilah lahir Legong klasik atau yang dikenal dengan sebutan Legong Keraton, bentuk awal tari yang kita kenal hingga sekarang.

Pada masa-masa awal, tarian ini hanya dibawakan oleh wanita muda, biasanya berusia sekitar 10–12 tahun, yang direkrut dan dilatih secara khusus di lingkungan keraton. Mereka dipilih karena dianggap masih murni dan mampu menampilkan keluwesan gerakan dengan penuh keanggunan. Sejak abad ke-19, ketika sistem feodalisme di Bali mulai berubah, tarian keluar dari istana dan menyebar ke desa-desa. Para penari yang sebelumnya dilatih di keraton kembali ke kampung halaman masing-masing dan mengajarkan Legong kepada masyarakat luas. Dari sinilah tarian ini berkembang pesat hingga menjadi milik bersama, bukan lagi sekadar seni pertunjukan istana.

Penyebarannya kemudian melahirkan banyak sanggar tari (sekaa Legong), khususnya di daerah Gianyar, Badung, Sukawati, Bedulu, Peliatan, Saba, dan Klandis. Masing-masing daerah menambahkan gaya serta gerakan khas, sehingga memperkaya ragam varian Legong. Selain itu, muncul pula berbagai bentuk pertunjukan dengan jumlah penari yang berbeda, misalnya Legong Keraton dengan tiga penari, atau Jempyaning Ulangun dengan tujuh penari yang menceritakan kisah Raden Inu Kertapati dan Candra Kirana.

Meski asal-usulnya terkait erat dengan upacara sakral dan keyakinan spiritual, dalam perkembangannya Tari Legong mengalami pergeseran makna. Kini, lebih sering dipentaskan sebagai seni pertunjukan sekuler, baik dalam konteks upacara odalan di pura maupun sebagai atraksi budaya bagi wisatawan. Pertunjukan ini dianggap sebagai persembahan hiburan tidak hanya bagi leluhur dan raja yang diyakini hadir dalam upacara, tetapi juga bagi masyarakat dan wisatawan yang datang menyaksikan keindahannya.

Dengan sejarah panjang yang berawal dari mimpi seorang raja hingga menjadi ikon pariwisata Bali, Tari Legong membuktikan diri sebagai warisan budaya yang hidup. Ia tidak hanya melestarikan estetika seni tari klasik, tetapi juga menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus memperkaya pengalaman budaya setiap orang yang menyaksikannya.

baca juga; sejarah dan asal-usul tentang Bali

Nilai Sakral dan Makna Filosofis Tari Legong

Sejak awal kemunculannya, tidak hanya dipandang sebagai sebuah hiburan semata, tetapi juga memiliki nilai sakral dan makna filosofis yang dalam. Hal ini dapat ditelusuri dari sejarah awalnya yang berangkat dari pengalaman spiritual Raja Sukawati, I Dewa Agung Made Karna, yang bermimpi melihat bidadari menari di kahyangan. Dari sinilah Legong pertama kali diciptakan sebagai bentuk perwujudan keindahan surgawi. Oleh karena itu, tarian ini sarat dengan nuansa religius dan spiritual.

1. Nilai Sakral dalam Tari Legong
  • Awal mula sakral
    Tarian ini lahir dari tarian Sang Hyang Legong, yang pada dasarnya merupakan tari wali (sakral) untuk memohon keselamatan dan perlindungan. Tarian ini diyakini sebagai media komunikasi dengan kekuatan adikodrati. Kehadiran penarinya kala itu tidak hanya sekadar simbol seni, tetapi juga dianggap sebagai perantara para dewa atau leluhur yang turun menyaksikan upacara.
  • Keterkaitan dengan upacara
    Pada masa lalu, hanya ditarikan di lingkungan keraton dan pura, terutama saat upacara odalan atau perayaan keagamaan. Tari ini menjadi bentuk persembahan suci, penghormatan kepada para dewa, serta penghargaan terhadap leluhur.
  • Penari yang disucikan
    Para penari umumnya masih belia dan belum mengalami pubertas, karena mereka dianggap masih suci (belum terikat nafsu duniawi). Hal ini memperkuat kesan kesakralan, sebab tubuh dan jiwa penari dipandang sebagai wadah yang bersih untuk menyalurkan energi spiritual.
2. Makna Filosofis Tari Legong
  • Harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan
    Gerakan tarian yang halus dan penuh detail mencerminkan filosofi Tri Hita Karana: keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Tarian ini menjadi simbol keharmonisan hidup yang senantiasa dijaga oleh masyarakat Bali.
  • Ungkapan rasa syukur dan penghormatan
    Tari ini juga melambangkan ungkapan syukur manusia kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan) atas anugerah kehidupan, serta penghormatan kepada roh leluhur yang diyakini selalu hadir dalam setiap ritual.
  • Simbol keindahan dan kesucian
    Gerakan lemah gemulai, tatapan mata, hingga jari-jemari yang lentik mengekspresikan keindahan dan kesucian. Filosofinya, hidup manusia idealnya dijalani dengan keluwesan, keharmonisan, dan penuh estetika.
  • Pewarisan budaya dan identitas
    Dari perspektif filosofis, Tari Legong menjadi simbol identitas budaya Bali yang diwariskan lintas generasi. Melalui tarian ini, nilai-nilai luhur seperti disiplin, keindahan, kebersamaan, dan rasa hormat terhadap tradisi tetap terjaga.
3. Perubahan Nilai dalam Perkembangan

Seiring perkembangan zaman, makna sakral Tari Legong mengalami pergeseran. Kini, selain dipentaskan dalam konteks ritual, tarian ini juga tampil sebagai seni pertunjukan untuk hiburan wisatawan. Meski demikian, makna filosofisnya tetap melekat, bukan sekadar tarian indah, melainkan simbol warisan budaya yang menegaskan identitas Bali sebagai pulau seni dan spiritualitas.

baca juga; makna tari barong di Bali: Upacara adat, harmoni & hiburan

Busana dan Properti Tari Legong Bali

Salah satu daya tarik utama dalam pertunjukan Tari Legong terletak pada busana dan propertinya yang indah serta sarat makna. Sejak awal, tarian ini dikenal dengan ciri khas hiasan kepala dan pakaian penari yang berwarna cerah. Warna-warna seperti merah, hijau, emas, dan ungu mendominasi, sehingga memberi kesan anggun sekaligus mencolok di panggung. Pemilihan warna cerah ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk menegaskan keceriaan, kemurnian, dan keindahan yang melekat pada tarian.

Busana (Pakaian) Tari Legong

Pakaian penari dibuat dengan detail yang sangat teliti, menggunakan kain songket khas Bali yang dipenuhi motif tradisional. Balutan busana ini tidak hanya mempercantik penampilan, tetapi juga melambangkan kehalusan budi dan kemuliaan. Selain itu, kain panjang yang dililitkan pada tubuh penari diatur sedemikian rupa agar mendukung gerakan luwes sekaligus mempertegas garis tubuh ketika menari.

Ciri khas yang paling mencolok ada pada hiasan kepala berupa gelungan atau mahkota berwarna emas yang dihiasi ukiran dedaunan serta bunga-bunga. Hiasan ini akan ikut bergoyang mengikuti setiap gerakan tubuh dan getaran bahu penari, menambah pesona visual yang memikat bagi penonton. Penempatan bunga segar seperti bunga jepun (kamboja) juga kerap digunakan untuk memperindah tampilan.

Properti Tari

Selain busana dan hiasan kepala, properti utama yang digunakan dalam menari adalah kipas. Kipas bukan sekadar alat pelengkap, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam membangun makna gerakan. Setiap bukaan dan kibasan kipas memberikan nuansa dramatis, menambah daya tarik visual, sekaligus mempertegas ekspresi cerita yang dibawakan. Dalam beberapa variasi, kipas juga melambangkan kelembutan, keanggunan, serta simbol kesejukan hati seorang wanita.

Kombinasi pakaian berwarna cerah, hiasan kepala emas, dan kipas sebagai properti utama tidak hanya menghadirkan keindahan semata, tetapi juga menyimpan makna filosofis. Busana dan properti ini merepresentasikan kesucian, keluwesan, serta keindahan jiwa yang ingin ditampilkan dalam setiap gerakan taria. Dengan demikian, kehadiran penari di atas panggung bukan sekadar menghadirkan seni hiburan, melainkan juga simbol estetika budaya Bali yang penuh makna.

lanjut baca; objek wisata yang cocok untuk foto pakaian adat Bali

Gerakan Tari Legong

Gerakan dalam tarian merupakan salah satu aspek terpenting yang membedakannya dengan tarian Bali lainnya. Dasar geraknya berakar dari Tari Gambuh, sebuah tari-drama klasik Bali yang menjadi sumber utama tata krama menari. Dalam lontar Panititaling Pagambuhan dijelaskan tentang dasar-dasar tari, termasuk aturan ketat dalam sikap tubuh, langkah, hingga ekspresi. Dari sanalah lahir gerakan tarian yang terkenal anggun, penuh detail, dan memiliki aturan baku.

Unsur Gerakan Utama
  • Agem (sikap dasar)
    Agem adalah posisi tubuh utama penari saat berdiri maupun bergerak. Posisi ini mencerminkan keseimbangan antara tubuh bagian atas dan bawah, menjadi fondasi sebelum penari melakukan transisi ke gerakan lainnya.
  • Tangkis (peralihan)
    Tangkis merupakan gerakan peralihan dari satu agem ke agem berikutnya. Gerakan ini harus dilakukan secara halus, menunjukkan keluwesan tubuh penari.
  • Tandang (cara berjalan dan bergerak)
    Dalam gerak tarian tandang sangat diperhatikan. Cara berjalan penari diatur agar tetap anggun, dengan langkah-langkah kecil, teratur, dan seirama dengan gamelan.
  • Tangkep (ekspresi wajah)
    Unsur paling khas dalam gerakannya adalah ekspresi. Tangkep diwujudkan melalui gerakan mata yang lincah, sering disebut nyeledet, yaitu melirik tajam ke kanan dan kiri. Gerakan mata inilah yang membuat tarian tampak hidup dan penuh daya pikat.
  • Gerakan leher, bahu, dan jemari
    Leher penari sering digerakkan dengan lembut untuk mendukung dinamika tarian, sementara bahu digetarkan mengikuti irama gamelan. Jari-jemari lentik yang terbuka lebar menjadi penanda keanggunan Legong. Setiap detail gerakan jemari memiliki pola tertentu yang memperindah tarian.
  • Penggunaan kipas
    Properti kipas bukan hanya pelengkap, tetapi bagian integral dari gerakan. Kibasan kipas dapat melambangkan kelembutan, menambah nuansa dramatis, dan memperkuat ekspresi cerita.

Kualitas Tari Legong tidak hanya diukur dari kecermatan gerakan, tetapi juga dari penguasaan wiraga (tubuh/teknik gerak), wirama (irama/tempo gamelan), dan wirasa (penghayatan/ekspresi rasa). Ketiganya harus menyatu agar tarian menghadirkan keindahan utuh, sesuai dengan filosofi tari Bali yang menekankan keselarasan.

Ciri khas terletak pada gerakan matanya yang ekspresif, seolah menyalurkan jiwa penari ke dalam cerita. Gerakan tubuh yang gemulai berpadu dengan musik gamelan semar pegulingan menciptakan suasana anggun namun energik. Kombinasi inilah yang menjadikannya bukan hanya tontonan indah, tetapi juga pengalaman estetis yang memikat hati penonton.

Di balik keindahannya, gerakan tarian mengandung makna filosofis. Agem melambangkan keseimbangan hidup, tangkis menggambarkan transisi dalam perjalanan manusia, sedangkan tangkep (ekspresi) mencerminkan kejujuran perasaan. Sementara itu, kipas sebagai properti melambangkan kelembutan hati dan kesejukan jiwa seorang wanita Bali.

baca juga; 30 jenis budaya dan tradisi unik di Bali

Beberapa Jenis Tari Legong di Bali

Seiring perkembangan zaman, Tari Legong mengalami banyak pengembangan dari bentuk klasiknya. Walaupun tetap mempertahankan pakem dasar gerakan, setiap jenis Legong memiliki cerita, jumlah penari, serta gaya penyajian yang berbeda. Berikut beberapa jenis yang populer di Bali:

  1. Legong Keraton (Lasem)
    Jenis ini dianggap sebagai bentuk Legong klasik dan yang paling terkenal. Ceritanya diambil dari kisah Raja Lasem yang jatuh cinta pada Putri Rangkesari. Kisah tersebut berakhir tragis karena cinta Lasem bertepuk sebelah tangan. Tarian ini biasanya dibawakan oleh tiga penari: dua orang Legong dan seorang Condong (pelayan putri) yang berperan sebagai pembuka cerita.
  2. Legong Jobog
    Terinspirasi dari epos Ramayana, khususnya adegan pertempuran antara dua saudara kera, Subali dan Sugriwa. Kedua penari berperan sebagai tokoh kera yang saling berhadapan dalam gerakan penuh dinamika. Ciri khasnya adalah penggunaan topeng, yang membuat pertunjukan terlihat lebih dramatik dan berbeda dari Legong pada umumnya.
  3. Legong Legod Bawa
    Jenis ini menceritakan kisah pertemuan Batara Kala dengan Batara Bayu. Pertarungan keduanya digambarkan dengan gerakan kuat namun tetap berpadu dengan keluwesan khas Legong. Tarian ini sarat makna filosofis tentang keseimbangan alam semesta antara kekuatan penghancur dan kekuatan kehidupan.
  4. Legong Kuntul
    Dikenal sebagai Legong yang unik karena terinspirasi dari gerakan burung kuntul (bangau putih). Penarinya menggunakan busana putih dengan hiasan menyerupai bulu burung, serta gerakan tangan yang menirukan sayap mengepak. Tarian ini dianggap sebagai inovasi yang membawa kesan ceria dan lembut, berbeda dengan jenis klasik yang lebih dramatik.
  5. Legong Smaradahana
    Jenis ini terinspirasi dari cerita Smaradahana, kisah cinta Dewa Kama (Smara) dan Dewi Ratih yang dibakar oleh api Siwa. Pertunjukan ini sarat nuansa romantis, penuh ekspresi kelembutan, dan biasanya dibawakan oleh beberapa penari. Smaradahana lebih menonjolkan unsur rasa (wirasa) ketimbang konflik dramatik.
  6. Tari Legong Andir (atau Nadir)
    Merupakan bentuk Legong yang berkembang di kalangan masyarakat, khususnya di desa-desa. Berbeda dari Legong Keraton yang berakar pada lingkungan istana, Nadir lebih bersifat rakyat dan biasanya ditarikan dalam upacara adat atau odalan di pura. Penampilannya sederhana, namun tetap menjaga keluwesan gerak dan keindahan busana khas.

Dengan beragam jenisnya, tarian ini memperlihatkan kekayaan kreativitas seni tari Bali. Setiap varian tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menyimpan cerita, makna filosofis, serta nilai budaya yang berbeda. Hal inilah yang menjadikan Legong tetap lestari dan dicintai hingga sekarang, baik oleh masyarakat Bali maupun wisatawan mancanegara.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
URL has been copied successfully!
Scroll to Top