30 Budaya dan tradisi unik di Bali: Berikut lokasi dan tempat digelar

Pesona dan daya tarik pulau Dewata Bali memang bukan hanya berupa objek wisata ataupun tempat rekreasi alamnya saja, tetapi banyak hal menarik yang bisa dinikmati oleh wisatawan yang sedang liburan di Bali.

Salah satunya adalah budaya dan tradisi unik yang banyak terdapat di pulau Bali menjadi suguhan menarik dan merupakan atraksi wisata yang diminati oleh wisatawan, itulah sebabnya mereka yang liburan di Bali selalu betah berlama-lama karena banyak hal baru yang bisa menambah pengalaman liburan mereka.

Dan untuk itulah dalam halaman ini akan dikemas informasi mengenai 30 jenis budaya dan tradisi unik di Bali yang merupakan warisan masa lalu dan masih bertahan sampai sekarang, berikut juga informasi mengenai lokasi dan tempat tradisi unik tersebut digelar, dan biasanya berhubungan dengan kegiatan upacara agama ataupun budaya adat setempat.

baca juga; fakta unik dan menarik tentang Bali

Dari 30 jenis jenis budaya dan tradisi unik di Bali, tentunya masih banyak terdapat yang lainnya, ini dikarenakan setiap wilayah desa adat yang ada di Bali, mungkin saja memiliki budaya yang berbeda dengan tempat lainnya.

Beragam budaya dan tradisi unik yang ada di pulau Dewata Bali, beberapa diantaranya memang sudah familiar bagi wisatawan, namun ada banyak diantaranya mungkin belum begitu populer, bahkan bagi warga Bali sekalipun. Dengan adanya informasi alam website ini, akan memberikan sedikit gambaran begitu kayanya Bali dengan budaya dan tradisi warisan masa lalu yang masih bertahan sampai saat ini.

Budaya dan tradisi unik di Bali

30 Budaya dan Tradisi Unik di Bali

  1. Pemakaman Desa Trunyan

    Di Desa Trunyan, Kintamani, Bangli, Bali, terdapat tradisi pemakaman unik. Di sana, jenazah tidak dikubur atau dikremasi, melainkan diletakkan di bawah pohon Menyan, hanya dipagari dengan bambu untuk melindunginya dari binatang liar. Anehnya, jasad tersebut tidak berbau hingga akhirnya hanya menyisakan tulang belulang yang kemudian ditempatkan di area khusus. Ini menjadikan Trunyan sebagai destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan.

  2. Ngerebong

    Tradisi Ngerebong di Desa Kesiman, Denpasar, diadakan setiap enam bulan sekali pada hari Minggu, Pon wuku Medangsia, delapan hari setelah Hari Raya Kuningan. Warga berkumpul di Pura Pengrebongan, mengarak Barong dan Rangda sebanyak tiga kali diiringi gamelan baleganjur. Banyak warga yang mengalami trance dan melakukan adegan berbahaya namun tidak terluka. Tradisi ini menjadi atraksi wisata yang menarik di Bali.

  3. Omed-omedan

    Tradisi Omed-omedan diadakan di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan, setiap tahun setelah Hari Raya Nyepi. Mulai pukul 14.00, prosesi ini melibatkan pemuda-pemudi berusia minimal 13 tahun yang belum menikah. Mereka saling tarik menarik dan terkadang berciuman sebagai simbol kegembiraan setelah Nyepi. Omend-omedan dipercaya memiliki nilai sakral dan menjadi atraksi wisata menarik di Bali.

  4. Mekare-kare

    Mekare-kare, atau perang pandan, adalah tradisi unik di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Dua peserta berhadapan dan saling menyerang dengan pandan berduri sebagai senjata. Mekare-kare atau perang pandan ini dilaksanakan saat Ngusaba Kapat (Sasih Sambah) pada bulan Juni di halaman Bale Agung. Ritual ini dilakukan untuk menghormati Dewa Indra, dewa perang tertinggi bagi umat Hindu di Tenganan, dan menjadi daya tarik wisata di Bali.

  5. Mekotek

    Di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, terdapat tradisi Mekotek yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali pada Hari Raya Kuningan. Mekotek digelar bertujuan untuk menolak bala dan memohon keselamatan dengan menggunakan tongkat kayu Pulet yang dibentuk menjadi kerucut. Tradisi ini dikenal dengan suara “tek, tek” dari kayu yang saling berbenturan dan tetap terjaga kelestariannya hingga kini.

  6. Upacara Ngaben di Bali

    Upacara Ngaben adalah budaya dan tradisi mayoritas umat Hindu di Bali untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta dari tubuh manusia ke asalnya dan menyucikan atma agar kembali ke sisi-Nya. Jasad bisa dikubur terlebih dahulu atau langsung dikremasi. Meskipun ada variasi dalam pelaksanaannya, esensi upacara ini tetap sama. Ngaben juga menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali. Upacara ini digelar biasanya kisaran bulan Juli- Agustus di berbagai Tempat di Bali.

  7. Gebug Ende Seraya

    Gebug Ende Seraya, atau perang rotan, adalah atraksi di Desa Seraya, Karangasem, Bali Timur, yang melibatkan dua pria saling menyerang dengan rotan dan perisai. Tujuan utama ritual ini adalah memohon hujan, dilaksanakan pada musim kemarau, antara Oktober dan November. Desa Seraya yang rentan terhadap masalah air melestarikan tradisi ini untuk memastikan kelangsungan sumber air mereka.

  8. Mesuryak

    Tradisi unik ini berasal dari desa Bongan di Kabupaten Tabanan. Mesuryak dilakukan untuk menghormati leluhur dengan melempar beras dan uang ke udara yang kemudian diperebutkan oleh warga. Tradisi ini diadakan setiap enam bulan pada Hari Raya Kuningan, yang berhubungan dengan perayaan Galungan dan Kuningan. Setelah leluhur hadir di Hari Raya Galungan, pada Kuningan mereka diantar kembali ke Nirwana dengan berbagai sesajen dan perbekalan.

  9. Upacara Melasti

    Upacara Melasti digelar di berbagai tempat di Bali, dilakukan setiap tahun dalam rangkaian Hari Raya Nyepi, namun juga bisa diadakan pada hari-hari tertentu saat piodalan di pura. Melasti melibatkan perjalanan ke sumber air seperti laut, danau, atau mata air untuk menyucikan pretima, senjata nawa sanga, umbul-umbul, dan kober. Tujuannya adalah untuk menghanyutkan segala penderitaan manusia melalui air kehidupan dan menyucikan diri dengan tirta amertha.

  10. Pawai Ogoh-ogoh

    Pawai ogoh-ogoh di Bali diadakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi, sekitar pukul 6 sore. Ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang mewakili Bhuta Kala, simbol kejahatan, dan diarak keliling desa atau kota. Pawai ini merupakan bagian dari ritual keagamaan yang bertujuan mengusir Bhuta Kala agar tidak mengganggu kehidupan manusia, terutama saat Nyepi keesokan harinya.

  11. Hari Raya Nyepi

    Hari Raya Nyepi di Bali dirayakan setahun sekali untuk menyambut tahun baru Isaka yang jatuh pada bulan mati (Tilem) sasih Kesanga. Perayaan ini ditandai dengan kesunyian, ketenangan, dan larangan untuk bepergian, menghidupkan api, atau membuat kegaduhan, ritual yang menjadi budaya umat Hindu Bali ini memang sangat unik dan menarik. Tujuannya adalah untuk introspeksi diri, meditasi, dan memulai kehidupan baru yang lebih baik pada bulan berikutnya, sasih Kedasa.

  12. Mesbes Bangke

    Di Banjar Buruan, Tampak Siring, Gianyar, Bali, tradisi Mesbes Bangke yang ekstrem dan unik melibatkan pencabikan mayat sebelum kremasi. Warga banjar Buruan mencabik-cabik mayat sebelum menuju tempat pembakaran. Tradisi unik ini hanya dilakukan untuk kremasi pribadi, bukan massal, dan tetap dilestarikan hingga kini sebagai bagian dari budaya unik di Gianyar.

  13. Sapi Gerumbungan di Buleleng

    Di Bali Utara, tradisi Sapi Gerumbungan memperlombakan sepasang sapi yang dihias dengan aksesoris dan dipasangi genta besar di leher. Penilaian berdasarkan keserasian gerak, ekor, dan kepala sapi. Tradisi unik di Bali  ini diadakan setiap HUT Kabupaten Buleleng di bulan Agustus sebagai upaya melestarikan warisan leluhur dan menjadi atraksi wisata yang menarik.

  14. Dewa Mesraman di Klungkung

    Upacara agama Dewa Mesraman awalnya berasal dari desa Panti Timrah Karangasem, namun kini juga digelar di Paksebali, Klungkung oleh penduduk asal desa tersebut. Dilaksanakan setiap Saniscara Kliwon wuku Kuningan atau Hari Raya Kuningan, upacara ini merupakan bagian dari ritual Pujawali atau piodalan di Pura Panti Timbrah. Jempana, stana dari Ida Bhatara, diarak dengan penuh semangat, mencerminkan luapan kegembiraan para pengayah. Tradisi unik di Bali ini menggambarkan kebersamaan dan kegembiraan dalam bentuk warisan budaya yang tetap terjaga.

  15. Perang Ketupat di Kapal

    Di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, ada tradisi unik bernama Perang Ketupat, yang diadakan setiap tahun pada hari Purnama sasih Kapat, sekitar bulan September-Oktober. Perang Ketupat ini melibatkan dua kelompok laki-laki yang berperang dengan menggunakan ketupat. Mereka mengenakan pakaian adat Bali, tetapi tanpa baju, dan setelah ada aba-aba, mereka mulai saling melempar ketupat di areal pura, yang kemudian meluas ke jalan raya, dan ni berakhir damai tanpa permusuhan, menyampaikan pesan sosial yang erat.

  16. Ngusaba Bukakak di Sangsit

    Di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng di Bali Utara, terdapat tradisi unik bernama Ngusaba Bukakak. Dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada hari Purnama sasih Kedasa, sekitar dua minggu setelah Hari Raya Nyepi di bulan April, ritual keagamaan ini bertujuan untuk berterima kasih kepada Dewi Kesuburan atas hasil pertanian yang melimpah. Wilayah pertanian Desa Sangsit terkenal subur dan luas. “Bukakak” berasal dari kata “Bu” atau Lembu yang melambangkan Dewa Siwa, dan “Kakak” atau gagak yang melambangkan Dewa Wisnu. Upacara ini diawali dengan Melasti, diikuti dengan prosesi mengelilingi persawahan dengan membawa bukakak.

  17. Ngerebeg di Tegalalang

    Tegalalang di Kabupaten Gianyar terkenal dengan sawah berundaknya, tetapi juga memiliki tradisi unik bernama Ngerebeg. Prosesi ini melibatkan anak laki-laki dari berbagai usia yang merias wajah mereka dengan riasan seram untuk mewakili wong samar, makhluk halus yang sering mengganggu anak-anak. Budaya dan tradisi unik ini digelar memberikan ruang bagi wong samar agar mereka bisa hidup berdampingan harmonis dengan manusia. Ngerebeg digelar oleh tujuh banjar di Desa Pekraman Tegalalang sebagai bagian dari pujawali di Pura Duur Bingin.

  18. Nyakan Diwang

    Di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, terdapat tradisi Nyakan Diwang, yang berarti memasak di luar rumah. Digelar pada dini hari saat perayaan Nyepi, terlihat unik dan menarik, saat digelar mengharuskan warga desa untuk memasak di pinggir jalan menggunakan alat tradisional. Tujuannya adalah untuk menyucikan lingkungan rumah dan dapur serta mempererat hubungan persaudaraan antarwarga.

  19. Siat Sampian di Bedulu

    Di Pura Samuan Tiga Bedulu, terdapat tradisi Siat Sampian yang melibatkan perang menggunakan sampian (rangkaian janur) oleh laki-laki dan perempuan. Dilaksanakan sebagai bagian dari pujawali di pura tersebut, prosesi unik ini bertujuan untuk menghormati bersatunya sekte-sekte di Bali dan melambangkan perlawanan dharma (kebajikan) terhadap adharma (kejahatan).

  20. Mebuug-buugan di Kedonganan

    Setiap tahun, tepat sehari setelah Nyepi, Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, menggelar tradisi Mebuug-buugan. Setelah lama vakum, prosesi unik ini kembali dihidupkan beberapa tahun terakhir. Peserta melumuri tubuh mereka dengan lumpur dari rawa-rawa hutan Mangrove dan kemudian membersihkan diri di Pantai Kedonganan. Tradisi ini memiliki makna simbolik untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif.

  21. Megoak-goakan di Buleleng

    Di Desa Panji, Buleleng, ada tradisi Megoak-goakan untuk menghormati Raja Ki Barak Panji Sakti. Tradisi ini terinspirasi oleh seekor gagak yang menangkap mangsanya dengan taktik tertentu, dan raja mengadaptasi strategi tersebut menjadi permainan tradisional. Megoak-goakan masih bertahan hingga kini dan menjadi atraksi wisata di Bali Utara.

  22. Mbed-mbedan

    Mbed-mbedan adalah sebuah tradisi unik di Bali yang diselenggarakan setiap tahun pada Hari Raya Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi) di desa adat Semate, Mengwi, Kabupaten Badung. Setelah sempat terhenti beberapa tahun, Mebd-medan ini dihidupkan kembali untuk menghormati Rsi Mpu Bantas, seorang suci yang berjasa di desa Semate. Tradisi ini berawal dari tarik ulur penamaan sebuah pura di hutan yang dipenuhi pohon kayu putih, yang kini dikenal sebagai Mbed-mbedan.

  23. Mepeed di Sukawati

    Sukawati dikenal bukan hanya sebagai pusat pasar seni dan belanja oleh-oleh di Bali, tetapi juga karena tradisi Mepeed, sebuah kearifan lokal yang masih dijaga hingga kini dan menjadi daya tarik wisata. Mepeed adalah prosesi berjalan beriringan hingga ratusan meter dengan mengenakan pakaian adat Bali, biasanya diikuti oleh para ibu yang membawa banten gebogan—rangkaian buah, jajanan, dan janur sebagai perlengkapan upacara keagamaan. Namun, di Sukawati, melibatkan semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, dari anak-anak hingga lansia, dengan pakaian adat Payas Agung khas Sukawati. Tradisi ini tidak hanya mempertahankan warisan budaya tetapi juga menjadi tontonan menarik bagi wisatawan.

  24. Ngedeblag Kemenuh

    Tradisi Ngedeblag di Kemenuh, Gianyar, adalah prosesi yang diadakan setiap 6 bulan sekali pada hari Kajeng Kliwon. Peserta laki-laki mengenakan kamben dan saput tanpa baju serta dihias menyeramkan dengan cat air warna-warni. Tradisi unik di Bali ini bertujuan untuk membersihkan bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia) agar desa Kemenuh terhindar dari bencana.

  25. Megebeg-gebegan

    Tradisi Megebeg-gebegan di Desa Pekraman Dharma Jati, Tukad Mungga, Buleleng, berhubungan dengan ritual keagamaan Hindu yang digelar sekali dalam setahun saat hari Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi). Pada tradisi ini, para pemuda desa memperebutkan kepala godel (anak sapi) yang digunakan sebagai sarana utama upacara persembahan. Kepala godel menjadi simbolis bhuta kala yang diperebutkan, menunjukkan kekayaan budaya Bali yang unik dan kurang dikenal.

  26. Nikah Massal di Pengotan

    Tradisi Nikah Massal di Pengotan adalah ritual unik yang dilakukan bersamaan oleh beberapa pasangan dalam satu upacara. Desa Pengotan, yang merupakan desa Bali Aga (desa Bali Kuno) di Bangli, mengadakan upacara pernikahan ini dua kali dalam setahun pada sasih Kapat (Agustus – September) dan Kedasa (Maret – April). Tradisi ini tidak hanya berlaku bagi penduduk desa tetapi juga bagi perempuan yang menikah ke luar desa. Keunikan pernikahan massal ini menjadi daya tarik tersendiri di Bangli.

  27. Perang Air di Gianyar

    Dikenal juga sebagai Siat Yeh, tradisi Perang Air di Gianyar digelar setiap tahun pada tanggal 1 Januari di desa Suwat. Menggunakan kalender Masehi, Siat Yeh ini bertujuan untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif tahun sebelumnya agar di tahun baru tidak mengalami hal serupa. Warga Suwat percaya bahwa pembersihan diri dan alam sekitar di awal tahun baru penting untuk menghilangkan pengaruh negatif.

  28. Makepung

    Makepung, berarti berkejar-kejaran, adalah tradisi unik balap kerbau di Jembrana, Bali. Dua pasang kerbau dipacu oleh joki, dengan pemenang ditentukan berdasarkan kemampuan mempersempit atau memperpanjang jarak pacu, bukan siapa yang mencapai garis finis terlebih dahulu. Tradisi tahunan ini berlangsung antara Juli dan November dan menjadi atraksi wisata menarik di Jembrana, Bali Barat.

  29. Siat Yeh Jimbaran

    Tradisi Siat Yeh atau Perang Air di Jimbaran adalah ritual tahunan yang diadakan setiap Hari Raya Ngembak Geni. Pemuda-pemudi banjar Teba memulai dengan mendak tirta (mengambil air suci) dari dua sumber air, yaitu pantai Suwung di Timur dan pantai Segara di Barat. Siat Yeh di Jimbaran ini menggambarkan simbolisasi penggabungan dua sumber air yang dulunya bersatu, kini dijalankan secara ritual karena terpisah oleh pembangunan pariwisata.

  30. Megibung di Karangasem

    Di Karangasem, Bali Timur, tradisi makan bersama yang dikenal sebagai megibung masih dipraktikkan hingga kini saat ada acara adat seperti pernikahan, otonan, tiga bulanan, dan upacara lainnya. Meskipun beberapa orang kini memilih menyajikan makanan prasmanan saat acara, namun budaya megibung tetap dipertahankan. Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg, bahkan pernah mengadakan megibung massal di Taman Ujung Karangasem yang memecahkan rekor MURI. Dalam megibung, sekelompok 5-6 orang duduk melingkari “gibungan” (segepok nasi di atas nampan) yang disajikan dengan lauk pauk dan sayur.

Demikian sejumlah budaya dan tradisi unik di Bali yang merupakan warisan masa lalu dan masih bertahan sampai sekarang, beberapa diantaranya menjadi perhatian menarik bagi wisatawan untuk bisa dinikmati keunikannya.

Layanan fast boat dari Bali ke Gili Trawangan Lombok kami sediakan informasinya lengkap di website ini, juga fast boat ke Nusa Penida dan juga Nusa Lembongan,  termasuk berbagai aktivitas wisata, tour dan sewa mobil.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
URL has been copied successfully!
Scroll to Top