Bali, sebuah pulau kecil yang terletak di antara pulau Jawa dan Lombok, telah lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata paling ikonik di dunia. Keindahan alamnya yang mempesona, mulai dari pantai berpasir putih hingga pegunungan yang hijau, serta kekayaan budaya dan tradisi yang hidup dalam keseharian masyarakatnya, menjadikannya tak hanya tempat liburan, tetapi juga sebagai simbol spiritualitas, seni, dan kekayaan sejarah yang mendalam.
Namun, di balik segala pesona yang terlihat, Bali menyimpan kisah panjang yang bermula sejak ribuan tahun yang lalu. Sejarah yang ada bukan hanya tentang masa lalu yang penuh dengan kerajaan, perdagangan, dan pertarungan kekuatan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai spiritual dan kebudayaan terus berkembang dan diwariskan hingga saat ini.
Untuk memahami Bali saat ini, kita harus mengintip ke dalam perjalanan sejarah yang melekat penuh warna. Sejarah yang ada tidak hanya melibatkan peristiwa besar yang mengubah arah kehidupan pulau ini, tetapi juga melibatkan interaksi dengan berbagai kebudayaan asing yang datang dan pergi, yang masing-masing memberi pengaruh pada cara hidup masyarakat.
Sebagai salah satu pusat budaya dan agama Hindu di Indonesia, Bali memiliki akar yang dalam dalam tradisi spiritual Hindu-Bali yang telah ada selama berabad-abad. Namun, juga tidak lepas dari pengaruh kebudayaan lokal, kerajaan-kerajaan besar, dan bahkan penjajahan yang datang dari berbagai negara.
Perjalanan sejarah dimulai jauh sebelum pulau ini menjadi tujuan wisata global. Bali memiliki hubungan yang erat dengan sejarah kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, termasuk Majapahit, yang meninggalkan jejak sejarah yang sangat penting dalam perkembangan kebudayaan dan agama Hindu di pulau ini.
Juga pernah mengalami masa-masa gelap di mana perang dan konflik antar kerajaan mempengaruhi stabilitas pulau ini. Seiring dengan kedatangan para pedagang dari luar negeri, dan menjadi bagian dari jalur perdagangan yang menghubungkan dunia Timur dan Barat, membuka pintu bagi pengaruh-pengaruh luar yang membawa ide-ide baru, serta kekayaan material yang berpengaruh pada seni dan budaya lokal.
Namun, sejarah Bali juga tidak hanya ditandai oleh peperangan dan pergeseran politik. Tetapi pulau ini selalu memiliki sisi yang tenang dan spiritual, yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Keberadaan pura-pura yang tersebar di seluruh pulau, upacara adat yang kental dengan nuansa religi, dan seni yang berkembang dalam bentuk tarian, musik, serta lukisan, menunjukkan betapa kuatnya tradisi dan spiritualitas di sini.
Tradisi-tradisi tersebut menjadi simbol dari identitas Bali yang tetap terjaga, meskipun zaman terus berubah. Seiring waktu, telah berhasil mempertahankan kekayaan budaya dan spiritualitasnya, meskipun dunia luar terus berubah.
Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai Sejarah singkat dan asal-usul Bali yang perlu diketahui, mulai dari masa prasejarah, pengaruh Hindu, kolonial Belanda hingga jaman kemerdekaan. Termasuk juga kisah cerita legenda yang ada dan asal-usul mengenai nama Bali itu sendiri.
Setiap periode ini menyumbang pada pembentukan Bali seperti yang kita kenal hari ini, sebuah pulau yang tidak hanya kaya akan keindahan alam tetapi juga penuh dengan warisan budaya yang hidup dan berkembang.

Sejarah Bali dari Masa ke Masa
1. Sejarah Bali pada Masa Paleolitik dan Mesolitik
Sebagai bagian dari paparan Sunda, telah lama terhubung dengan pulau Jawa dalam berbagai periode sejarah. Pada masa-masa tertentu dalam sejarah geologis pulau-pulau di Asia Tenggara, Bali dan Jawa tidak terpisahkan oleh lautan, melainkan menjadi satu daratan yang menyatu.
Bahkan pada masa kini, kedua pulau tersebut hanya dipisahkan oleh Selat Bali yang memiliki lebar sekitar 2,4 kilometer. Keterkaitan sejarah dengan pulau Jawa ini menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, keduanya merupakan bagian dari satu kawasan yang saling terhubung.
Penemuan mengenai pendudukan manusia di Bali sendiri berhubungan erat dengan temuan arkeologis yang menunjukkan bahwa manusia purba dari Jawa telah merambah ke pulau ini. Manusia Jawa kuno, yang diidentifikasi dengan spesimen Homo erectus, diyakini telah menduduki pulau ini sejak sekitar 1,7 juta tahun hingga 0,7 juta tahun yang lalu. Penemuan ini mengungkapkan bahwa pulau ini menjadi salah satu tempat migrasi awal bagi manusia purba yang berasal dari Jawa.
Pada zaman Paleolitik, yang diperkirakan berlangsung antara 1 juta hingga 200.000 tahun yang lalu, Bali sudah dihuni oleh manusia purba. Bukti arkeologis dari periode ini ditemukan dalam bentuk berbagai alat batu yang digunakan untuk bertahan hidup.
Alat-alat tersebut, seperti kapak tangan, ditemukan di beberapa situs seperti di desa Sembiran dan Trunyan. Penemuan ini menunjukkan bahwa pada masa itu, masyarakat pulau ini telah mulai mengenal teknologi dasar untuk berburu dan mengumpulkan makanan.
Setelah periode Paleolitik, Bali juga mengalami fase Mesolitik, yang berlangsung antara 200.000 hingga 30.000 tahun yang lalu. Pada masa ini, manusia mulai menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi dalam mengumpulkan makanan dan berburu.
Meskipun masih dihuni oleh Homo erectus, manusia pada periode ini mulai membuat alat yang lebih canggih, seperti mata panah dan berbagai peralatan lainnya yang terbuat dari tulang hewan atau ikan. Peralatan tersebut menunjukkan tingkat keahlian yang lebih tinggi dalam pengolahan sumber daya alam.
Pada periode Mesolitik, manusia purba mulai menetap di gua-gua yang mereka gunakan sebagai tempat tinggal sementara. Salah satu situs yang ditemukan di daerah Pecatu, Kabupaten Badung, adalah gua-gua seperti Selanding dan Karang Boma, yang digunakan oleh manusia pada masa itu. Gua-gua ini menjadi saksi bisu dari kehidupan masyarakat kuno yang masih dalam tahap perburuan dan pengumpulan.
Sekitar 45.000 tahun yang lalu, manusia modern yang dikenal sebagai Homo sapiens mulai tiba di Bali. Gelombang pertama migrasi Homo sapiens datang dari arah selatan, yang diperkirakan berasal dari kelompok Australoid yang menyebar ke wilayah Asia Tenggara.
Proses migrasi ini menggantikan keberadaan Homo erectus yang sebelumnya mendominasi pulau ini. Kehadiran Homo sapiens di Bali menandai perubahan besar dalam perkembangan sejarah manusia di pulau ini, dengan munculnya budaya dan teknologi yang lebih maju.
2. Sejarah Bali Masa Prasejarah
Sejarah Bali Kuno dimulai pada abad ke-8 Masehi, meskipun masa sebelum itu juga penting untuk dipelajari. Sebelum 800 M, berada dalam periode prasejarah yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan kebudayaan lokal. Pada masa ini, masyarakat menjalani pola hidup berburu dan mengumpulkan makanan, yang kemudian berkembang menjadi pertanian dan keterampilan perundagian.
Masyarakat belum mengenal sistem tulisan, sehingga sejarahnya diketahui melalui bukti arkeologis. Temuan-temuan ini menggambarkan perkembangan dari kehidupan sederhana menjadi komunitas yang lebih terstruktur dengan kemampuan bertani dan membuat kerajinan tangan.
3. Sejarah Bali pada Masuknya Agama Hindu
Masuknya agama Hindu dari India pada abad pertama Masehi menandai peralihan dari zaman prasejarah ke zaman sejarah. Hindu membawa perubahan besar dalam budaya, agama, dan sistem pemerintahan, yang tercatat dalam prasasti-prasasti mulai abad ke-8 Masehi.
Menjadi kerajaan terorganisir dengan pemerintahan yang terstruktur, di bawah pengaruh kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Raja-raja seperti Udayana dan Jayapangus memerintah dengan bantuan badan penasihat, yang terdiri dari senapati dan pendeta Siwa serta Buddha. Pengaruh Hindu membentuk kebudayaan Bali yang kaya, dengan tradisi keagamaan dan sosial yang terus bertahan.
4. Sejarah Bali pada Masa Majapahit (1343-1846)
Pada tahun 1343, Gajah Mada memimpin ekspedisi besar untuk menguasai Bali, yang saat itu diperintah oleh Raja Astasura Ratna Bumi Banten dari Kerajaan Bedahulu. Setelah mengalahkan Patih Kebo Iwa dan pasukannya dalam pertempuran sengit, Gajah Mada berhasil menaklukkan kerajaan ini, mengakhiri pemerintahan Raja Bedahulu, dan menyebabkan kekosongan kekuasaan.
Majapahit kemudian menunjuk Sri Kresna Kepakisan sebagai pemimpin baru, karena hubungannya dengan Bali Aga. Ini mengarah pada berdirinya Wangsa Kepakisan, yang memainkan peran penting dalam politik masa itu dan menjalin hubungan erat antara Bali dan Majapahit hingga abad ke-15.
5. Sejarah Bali: Masa kolonial Belanda (1846-1942)
Pada periode 1846-1942, Belanda mulai mengintervensi Bali untuk mengintegrasikan pulau ini ke dalam sistem kolonialnya. Tujuannya adalah menguasai wilayah yang belum sepenuhnya berada di bawah kontrol Belanda dan memaksimalkan potensi ekonomi.
Penolakan raja-raja terhadap kebijakan perdagangan Belanda memperburuk hubungan, sementara ketidakpuasan masyarakat Lombok terhadap penguasa Bali memberi Belanda kesempatan untuk masuk. Belanda melakukan ekspansi militer, menghadapi perlawanan sengit dari Bali, namun akhirnya berhasil menundukkan pulau ini.
Meskipun Bali tetap mempertahankan budaya dan sosialnya, penjajahan Belanda memicu semangat nasionalisme yang berlanjut hingga Indonesia merdeka pada 1949.
6. Sejarah Bali: Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pendudukan Jepang dimulai pada 18-19 Februari 1942 dengan pendaratan di Pantai Sanur, yang berlangsung tanpa perlawanan berarti. Setelah menguasai Denpasar, pasukan Jepang memperkuat kontrol mereka di pulau ini, awalnya dengan pengelolaan militer oleh Angkatan Darat Jepang (Rikugun).
Kemudian, pengaturan pemerintahan beralih ke sipil meskipun situasi perang tetap mendominasi. Jepang memobilisasi pemuda untuk dilatih dalam tentara Pembela Tanah Air (PETA) sejak Januari 1944, untuk mendukung kebutuhan perang. Pendudukan ini mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi Bali, meninggalkan dampak besar hingga kemerdekaan Indonesia.
7. Sejarah Bali: Masa Kemerdekaan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, I Gusti Ketut Puja tiba di Bali pada 23 Agustus 1945 sebagai Gubernur Sunda Kecil, yang mencakup juga wilayah Nusa Tenggara. Ia mulai menyebarkan semangat kemerdekaan termasuk pelosok desa.
Pemerintahan mulai disusun, dengan Singaraja sebagai ibu kota provinsi. Pembentukan struktur pemerintahan ini penting dalam menyesuaikan Bali dengan sistem pemerintahan Indonesia yang baru merdeka. Selain tokoh politik, masyarakat loka juga berperan dalam menyebarkan informasi kemerdekaan. Meskipun tantangan tetap ada, namun mulai memasuki era baru pasca-kemerdekaan dengan upaya pembangunan dan stabilitas pemerintahan.
Legenda Asal-usul Bali
Ada sebuah cerita legenda yang mengisahkan tentang asal-usul Pulau Bali yang konon dulunya pernah menyatu dengan Pulau Jawa. Cerita ini dikenal dalam kitab Babad Bali, yang mengisahkan peristiwa pemisahan kedua pulau tersebut, yang terjadi akibat sebuah kejadian mistis yang melibatkan seorang brahmana bernama Sidhi Mantra. Menurut cerita ini, Sidhi Mantra melakukan meditasi yang sangat mendalam hingga akhirnya ia mampu memisahkan Pulau Dewata, yang kini dikenal sebagai Bali, dari Tanah Jawa.
Sidhi Mantra sendiri berasal dari Kerajaan Daha di Kediri, yang terletak di Jawa Timur. Sebagai seorang brahmana yang dihormati, Sidhi Mantra memiliki seorang putra yang bernama Manik Angkeran. Sayangnya, meskipun terlahir dalam keluarga yang terpandang, Manik Angkeran memiliki kebiasaan buruk, yaitu kecanduannya pada permainan judi. Akibat kebiasaannya tersebut, Manik Angkeran terjerat dalam utang yang sangat banyak. Suatu hari, ketika ia tidak mampu lagi membayar utangnya, ia merasa terdesak dan memutuskan untuk meminta bantuan pada sang ayah, Sidhi Mantra.
Sebagai seorang brahmana yang bijaksana, Sidhi Mantra tidak langsung menolak permintaan anaknya. Ia kemudian memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju Gunung Agung untuk meminta bantuan dari Naga Basuki, makhluk mitologi yang dipercaya memiliki kekuatan luar biasa. Sesampainya di Gunung Agung, Sidhi Mantra mengeluarkan sebuah genta dan membunyikannya dengan harapan bisa membangunkan Naga Basuki. Genta tersebut terdengar menggema hingga akhirnya sang naga muncul dan memberikan beberapa keping emas sebagai bantuan untuk membayar utang Manik Angkeran.
Dengan emas pemberian Naga Basuki, Manik Angkeran berhasil melunasi utang-utangnya dan berjanji untuk berhenti berjudi. Namun, meskipun diberi kesempatan kedua, kebiasaan buruk Manik Angkeran ternyata tidak berubah. Suatu malam, tanpa sepengetahuan ayahnya, Manik Angkeran menyusup ke kamar Sidhi Mantra ketika sang ayah tertidur dan mencuri genta yang digunakan untuk memanggil Naga Basuki.
Dengan genta di tangannya, Manik Angkeran segera menuju Gunung Agung. Begitu ia sampai, ia membunyikan genta tersebut, yang dengan cepat membangunkan Naga Basuki. Pada saat itulah, Manik Angkeran melihat sosok naga yang bermahkotakan intan dan bertahtakan emas, sebuah pemandangan yang sangat mempesona. Ketika melihat kilauan emas pada mahkota dan tahta sang naga, sifat serakah Manik Angkeran muncul. Ia segera mencari kesempatan untuk memotong ekor Naga Basuki yang terlihat sangat berharga.
Namun, tindakan Manik Angkeran itu ternyata memicu kemarahan Naga Basuki. Sang naga yang merasa dikhianati pun membalas perbuatan Manik Angkeran dengan menyemburkan api yang sangat besar, yang akhirnya mengakibatkan kematian Manik Angkeran.
Sidhi Mantra, setelah mengetahui kematian anaknya, merasa sangat bersedih dan penuh penyesalan. Ia kemudian kembali ke Gunung Agung dan meminta maaf kepada Naga Basuki, memohon agar anaknya dihidupkan kembali. Naga Basuki, meskipun marah, memenuhi permintaan Sidhi Mantra dengan syarat bahwa ekornya yang telah dipotong oleh Manik Angkeran harus dikembalikan. Sidhi Mantra pun menyetujui syarat tersebut, dan akhirnya Manik Angkeran dihidupkan kembali.
Namun, hidupnya tidak kembali seperti semula. Sidhi Mantra, yang merasa bahwa anaknya belum sepenuhnya berubah, memutuskan untuk menyerahkan Manik Angkeran kepada Naga Basuki untuk dijaga dan mengabdi kepada makhluk tersebut. Sidhi Mantra kemudian kembali ke Daha, meninggalkan Manik Angkeran di Gunung Agung, tempat ia akhirnya menetap.
Di perjalanan pulang, ketika Sidhi Mantra tiba di Genting, ia merasa khawatir bahwa jika Manik Angkeran kembali ke Daha, ia akan kembali berjudi dan merusak hidupnya. Untuk itu, Sidhi Mantra memutuskan untuk melakukan meditasi yang lebih mendalam. Setelah beberapa waktu, ia akhirnya menggoreskan tongkatnya ke tanah, dan tempat meditasi tersebut kemudian berubah menjadi perairan yang kini dikenal sebagai Pura Segara Rupek, yang terletak di Buleleng. Perairan ini hanya berjarak sekitar dua kilometer dari Pulau Jawa.
Meskipun telah meninggalkan Manik Angkeran, keturunan dari Manik Angkeran tetap memiliki hubungan erat dengan Bali hingga kini. Salah satunya, mereka bertanggung jawab sebagai pemangku adat di Pura Besakih, yang terletak di kaki Gunung Agung. Pura ini memiliki nilai spiritual dan budaya yang sangat tinggi bagi masyarakat hingga hari ini.
Sejarah dan Asal-usul Nama Bali
Asal-usul nama “Bali” memiliki beberapa teori yang berkembang, namun yang paling populer adalah berdasarkan pada kata “Balidwipa,” yang berasal dari bahasa Sanskerta. “Bali” dalam hal ini berarti “persembahan” atau “pengorbanan,” sementara “dwipa” berarti “pulau.”
Dalam konteks ini, bisa diartikan sebagai “Pulau Pengorbanan,” yang mencerminkan tradisi dan upacara persembahan keagamaan yang sangat kental di pulau ini, di mana masyarakat sangat menjunjung tinggi ritual dan persembahan kepada dewa-dewa mereka.
Selain itu, ada juga teori yang menyebutkan bahwa nama Bali berasal dari kata “Balai” yang berarti “tempat” atau “gedung” dalam bahasa Bali, yang menggambarkan pulau ini sebagai tempat pertemuan berbagai budaya, agama, dan tradisi.
Ada pula yang mengaitkan nama Bali dengan sebuah kisah legenda lokal, di mana Bali merupakan nama seorang pahlawan atau tokoh dalam mitologi yang dipuja oleh masyarakat setempat, meskipun ini lebih bersifat spekulatif. Namun, terlepas dari teori-teori tersebut, nama Bali selalu erat kaitannya dengan budaya, spiritualitas, dan keindahan alam pulau ini.
Teori lain menyebutkan bahwa nama “Bali” berasal dari kata “Wali,” yang dalam bahasa Bali berarti “suci” atau “pelindung.” Dalam konteks ini, pulau Bali dapat dianggap sebagai tempat yang suci atau dilindungi, yang sangat terkait dengan aspek spiritual dan agama Hindu yang berkembang pesat di pulau ini.
Konsep “wali” ini juga dapat merujuk pada peran para wali atau pemimpin spiritual dalam menjaga dan mengarahkan masyarakat Bali dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai religius dan kearifan lokal.
Secara etimologis, meskipun ada yang menghubungkan “Bali” dengan “Wali,” teori ini lebih bersifat interpretatif dan terkait dengan pandangan filosofis mengenai pulau ini sebagai tempat yang memiliki nilai sakral dan spiritual yang tinggi. Namun, secara umum, asal-usul nama lebih sering dikaitkan dengan “Balidwipa” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “Pulau Pengorbanan.”
*dikutip dari berbagai sumber