Bali tidak hanya menawarkan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga karena kekayaan budaya yang hidup dan terus lestari hingga kini. Di balik pantai-pantai eksotis, sawah berundak, serta kemudahan akses wisata seperti layanan fast boat dari Bali ke Gili Trawangan Lombok, Nusa Penida, maupun Lembongan.
Pulau Dewata menyimpan warisan seni dan tradisi yang menjadi roh kehidupan masyarakatnya. Seni tari tradisional Bali merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang paling menonjol, sarat makna, nilai filosofis, serta keindahan gerak yang memikat siapa saja yang menyaksikannya.
Selama ini, website ini memang dikenal luas sebagai sumber informasi seputar layanan fast boat dan transportasi laut untuk menunjang perjalanan wisata Anda. Mulai dari informasi rute, jadwal, hingga tips perjalanan menggunakan fast boat dari Bali ke berbagai destinasi favorit seperti Gili Trawangan Lombok, Nusa Penida, dan Lembongan.
Namun, lebih dari sekadar membahas sarana perjalanan, website ini juga berkomitmen untuk mengulas berbagai hal menarik lainnya di Bali, khususnya yang berkaitan dengan budaya dan tradisi lokal. Salah satu fokus utama yang kami angkat adalah seni tari tradisionalBali, yang menjadi identitas budaya sekaligus daya tarik wisata yang tak ternilai.
Berbicara tentang seni tari Bali, tentu kita tidak asing dengan tarian-tarian ikonik seperti Tari Barong yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan keburukan, maupun Tari Kecak yang terkenal dengan koor “cak” yang magis dan latar kisah Ramayana. Kedua tarian tersebut telah menjadi simbol budaya Bali di mata dunia.
Namun, di balik popularitas tarian-tarian tersebut, masih banyak tarian Bali lainnya yang memiliki karakter unik, latar sejarah menarik, serta makna mendalam yang layak untuk dikenal lebih jauh oleh masyarakat luas maupun wisatawan.
Seni tari tradisional di Bali tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai bagian dari upacara keagamaan, media pendidikan moral, serta sarana pelestarian nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Setiap gerakan mata, tangan, dan tubuh penari memiliki arti tersendiri yang mencerminkan karakter, emosi, dan pesan yang ingin disampaikan. Keunikan inilah yang menjadikannya begitu kaya dan beragam, dengan masing-masing tarian memiliki identitas serta cerita yang berbeda.
Salah satu tarian yang menarik untuk dibahas lebih dalam adalah Tari Trunajaya. Tari tradisional Bali ini adalah salah satu jenis tarian putra, mengadung makna keras penuh energi yang berasal dari desa Jagaraga Buleleng, tarian ini menggambarkan jiwa muda, gerak dinamis, pakaian tata busana khas, dan memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang.
Tarian ini dikenal dengan karakter gerakannya yang dinamis, ekspresif, dan penuh energi, mencerminkan sisi kepahlawanan serta jiwa muda yang berani. Meski tidak sepopuler Barong atau Kecak di kalangan wisatawan awam, Tari Trunajaya memiliki posisi penting dalam khazanah seni pertunjukan Bali, khususnya dalam perkembangan tari kreasi yang tetap berakar kuat pada pakem tradisi.

Tari Trunajaya: Ekspresi Jiwa Muda yang Enerjik dalam Seni Tari Bali
Tari Trunajaya atau yang juga dikenal dengan sebutan Taruna (Truna) Jaya merupakan salah satu seni tari tradisional Bali yang sarat akan ekspresi, karakter, dan simbolisasi dinamika masa muda. Tarian ini mengisahkan sosok seorang pemuda yang baru menginjak usia remaja, dengan luapan jiwa yang keras, emosional, enerjik, namun di saat yang sama juga menyimpan sisi kelembutan.
Seluruh karakter tersebut dituangkan secara utuh melalui rangkaian gerak tarian yang tegas, dinamis, dan penuh penghayatan, sehingga Tari Trunajaya tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga kuat dalam penyampaian makna.Secara bentuk pertunjukan, Tari Trunajaya termasuk tarian tunggal, yaitu tarian yang pada dasarnya dibawakan oleh satu orang penari.
baca juga; Jadwal dan tempat pertunjukan tari Bali di Ubud
Keunikan ini menjadikan penari sebagai pusat perhatian utama, karena seluruh pesan, emosi, dan simbol tarian bergantung pada kemampuan penari dalam mengolah gerak tubuh, ekspresi wajah, serta penguasaan irama. Gerakan-gerakan yang ditampilkan cenderung keras dan bersemangat, mencerminkan gejolak batin seorang pemuda yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan pembuktian eksistensi.
Tari Trunajaya menjadi kebanggaan masyarakat Desa Jagaraga, Buleleng, karena tarian ini merupakan hasil karya putra daerah setempat. Dari desa inilah Tari Trunajaya berkembang dan kemudian dikenal luas, tidak hanya di Bali, tetapi juga hingga ke tingkat nasional dan mancanegara.
Keberadaannya sebagai karya seni unggulan menjadikan Tari Trunajaya sebagai salah satu daya tarik budaya yang turut memperkaya khazanah pariwisata Bali. Hingga saat ini, tarian ini masih sering dipentaskan dalam berbagai kesempatan, membuktikan bahwa pesonanya tetap relevan dan diminati lintas generasi.
Daya tarik utama Tari Trunajaya terletak pada ekspresi estetik dan gelora optimistik yang dipancarkan. Setiap gerakan mengandung semangat muda yang membara, penuh percaya diri, dan terkadang terkesan meledak-ledak. Namun di balik kekerasan dan ketegasan gerak, terselip pula nuansa halus yang mencerminkan sisi lembut seorang remaja, terutama ketika tarian ini menggambarkan usaha sang pemuda untuk memikat hati seorang gadis. Perpaduan antara keras dan lembut inilah yang menjadikan Tari Trunajaya kaya akan rasa dan interpretasi.
Dari segi karakter, Tari Trunajaya termasuk dalam tarian putra keras, meskipun dalam praktiknya tarian ini justru banyak ditarikan oleh penari putri. Hal ini menjadi ciri khas tersendiri, karena penari dituntut untuk mampu mengekspresikan karakter maskulin, tegas, dan berani melalui tubuh dan ekspresi yang kuat. Kemampuan penari dalam mengolah emosi dan energi menjadi faktor penting agar karakter pemuda yang digambarkan dapat tersampaikan secara meyakinkan kepada penonton.
baca juga; Tiket tari Barong di Batubulan Bali
Sebagai bagian dari tari Balih-balihan, Trunajaya berfungsi sebagai tarian hiburan. Artinya, tarian ini tidak terikat secara ketat pada konteks ritual keagamaan, sehingga dapat dipentaskan di berbagai tempat dan suasana. Tari Trunajaya kerap ditampilkan di halaman pura, lapangan terbuka, panggung pertunjukan, hingga ruang tertutup dalam acara seni dan budaya. Fleksibilitas inilah yang membuat tarian ini mudah diapresiasi oleh berbagai kalangan, baik masyarakat lokal maupun wisatawan.
Gerakan-gerakan dalam Tari Trunajaya juga memperlihatkan adanya pengaruh budaya luar, khususnya budaya India. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan gerak agem, yaitu sikap dasar tubuh saat menari, yang memiliki kemiripan dengan konsep gerak tribhangga. Selain itu, terdapat pula gerakan yang terinspirasi dari alam, seperti gerak ngepik yang menirukan perilaku kepik, serangga kecil dengan warna-warni menarik. Peniruan gerak alam ini memperkaya variasi gerakan sekaligus menegaskan kedekatan seni tari Bali dengan lingkungan sekitarnya.
Seluruh rangkaian gerak Tari Trunajaya pada dasarnya bertujuan untuk menggambarkan kejayaan masa muda—fase kehidupan yang penuh gejolak emosi, semangat tinggi, keberanian, dan rasa ingin tahu yang besar. Dinamika tersebut tercermin melalui tempo yang cepat, perubahan ekspresi yang kontras, serta gerakan tegas yang penuh energi. Inilah yang membuat Tari Trunajaya terasa hidup dan mampu membangkitkan emosi penonton.
Seiring perkembangannya, Tari Trunajaya tidak lagi selalu dibawakan oleh satu penari saja. Saat ini, tarian ini juga dapat dipentaskan oleh beberapa penari dalam satu sajian, dengan durasi waktu yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan acara.
baca juga; 6 Lokasi tempat pertunjukan tari Kecak di Bali
Durasi terpendek pertunjukan umumnya sekitar 11 menit, namun dapat diperpanjang tanpa menghilangkan esensi dan karakter utama tarian. Fleksibilitas ini menjadikan Trunajaya tetap adaptif terhadap perkembangan seni pertunjukan modern, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai tari Bali yang kuat dan ekspresif.
Dengan segala keunikan gerak, ekspresi, serta simbolisasi yang terkandung di dalamnya, Tari Trunajaya menjadi salah satu representasi penting dari seni tari Bali yang menggambarkan dinamika jiwa muda. Tarian ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi media ekspresi nilai-nilai emosional, estetika, dan karakter manusia yang relevan sepanjang zaman.
Pakaian atau Tata Busana Tari Trunajaya
Pakaian atau tata busana dalam Tari Trunajaya memiliki peranan yang sangat penting dalam memperkuat karakter dan ekspresi tarian. Busana tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap visual, tetapi juga sebagai simbol yang menegaskan sifat tokoh pemuda yang digambarkan—keras, enerjik, emosional, namun tetap menyimpan sisi keindahan dan kelembutan. Warna-warna mencolok, dominasi prada, serta penggunaan aksesori khas Bali menjadikan tampilan penari Tari Trunajaya terlihat tegas, berwibawa, dan penuh daya tarik.
baca juga; jenis pakaian adat Bali
Setiap unsur busana penari Trunajaya dirancang untuk mendukung gerakan yang dinamis dan ekspresif. Tata busana ini juga membantu penonton menangkap karakter pemuda yang penuh semangat dan percaya diri. Kombinasi kain, aksesoris tubuh, serta hiasan kepala menciptakan kesan visual yang kuat, sekaligus menjadi ciri khas yang membedakan Tari Trunajaya dari tarian Bali lainnya.
Berikut adalah penjelasan dan deskripsi masing-masing pakaian serta perlengkapan yang digunakan dalam Tari Trunajaya.
- Kamen / Kancut Ungu Prada Bermotif Wajik
Kamen atau kancut berwarna ungu prada dengan motif wajik digunakan sebagai bawahan utama penari. Warna ungu melambangkan kewibawaan dan keberanian, sementara motif wajik memberi kesan tegas dan dinamis. Kain ini dililit dengan kuat untuk mendukung gerakan kaki yang aktif dan penuh tenaga. - Baju Panjang Ungu Prada Bermotif Keemasan
Baju panjang yang dikenakan penari berwarna ungu prada dengan hiasan motif keemasan. Busana ini berfungsi memperkuat kesan gagah dan berkarakter keras, sekaligus memberikan sentuhan estetika yang mewah. Motif keemasan juga menambah kesan keagungan dan keindahan visual saat penari bergerak. - Sabuk Kuning Prada
Sabuk berwarna kuning prada digunakan untuk mengikat kamen dan baju agar tetap rapi selama pertunjukan. Selain fungsi praktis, warna kuning melambangkan semangat, energi, dan optimisme yang sejalan dengan karakter pemuda dalam Tari Trunajaya. - Ampok-ampok
Ampok-ampok dikenakan di bagian pinggang dan berfungsi sebagai aksesoris pelengkap yang memperindah siluet tubuh penari. Elemen ini juga membantu mempertegas gerakan pinggul serta menambah kesan kokoh dan berisi pada penampilan penari. - Simping Kulit
Simping kulit dipakai pada bagian bahu atau dada samping. Aksesoris ini memberikan kesan kuat, maskulin, dan tegas. Penggunaan simping kulit juga menegaskan karakter keras yang menjadi ciri utama Tari Trunajaya. - Penutup Dada Berwarna Hitam
Penutup dada berwarna hitam berfungsi untuk menambah kesan gagah dan tegas. Warna hitam melambangkan kekuatan dan keteguhan, serta menjadi penyeimbang visual dari dominasi warna ungu dan emas pada busana utama. - Badong
Badong dikenakan di leher sebagai hiasan utama bagian atas tubuh. Aksesoris ini berfungsi memperindah penampilan sekaligus menambah kesan berwibawa. Badong juga membantu memusatkan perhatian penonton pada ekspresi wajah dan gerakan kepala penari. - Gelang Kana Atas
Gelang kana atas dikenakan di lengan bagian atas. Aksesoris ini berfungsi menegaskan gerakan tangan dan lengan yang tegas serta dinamis, sekaligus memperkaya detail busana Tari Trunajaya. - Gelang Kana Bawah
Gelang kana bawah dipakai di pergelangan tangan. Selain sebagai hiasan, gelang ini memperkuat aksen setiap gerakan tangan, terutama pada gerakan cepat dan ekspresif yang menjadi ciri khas tarian ini. - Udeng
Udeng merupakan penutup kepala yang memiliki perbedaan cukup mencolok dibandingkan dengan penggunaan udeng pada tarian Bali lainnya. Udeng dalam Tari Trunajaya dirancang secara khusus oleh para penggarap tari, dengan bentuk dan penataan yang unik sehingga menciptakan ciri khas tersendiri. Penggunaan udeng ini mempertegas karakter pemuda yang percaya diri, enerjik, dan penuh ekspresi. - Garuda Mungkur
Garuda mungkur dikenakan di bagian belakang kepala sebagai pelengkap udeng. Aksesoris ini melambangkan kewibawaan dan kekuatan, sekaligus memperindah tampilan penari dari berbagai sudut pandang. - Bunga Sandat
Satu bunga sandat digunakan sebagai hiasan kepala. Bunga ini melambangkan keharuman, keindahan, dan sisi lembut yang tersembunyi dalam karakter pemuda Tari Trunajaya, sebagai penyeimbang dari sifat keras dan emosional. - Bunga Kuping
Bunga kuping dikenakan di bagian telinga sebagai hiasan tambahan. Elemen ini memperhalus tampilan penari dan menambah nilai estetika tanpa menghilangkan kesan tegas dan berani. - Rumbing
Rumbing digunakan sebagai aksesoris telinga khas Bali. Selain berfungsi sebagai hiasan, rumbing juga memberikan sentuhan tradisional yang kuat serta mempertegas identitas Tari Trunajaya sebagai bagian dari seni tari Bali.
Dengan susunan pakaian atau tata busana yang lengkap dan sarat makna ini, Trunajaya tampil sebagai tarian yang tidak hanya kuat dari segi gerak dan ekspresi, tetapi juga kaya secara visual. Setiap elemen pakaian saling melengkapi untuk menghadirkan karakter pemuda yang penuh semangat, percaya diri, dan memikat dalam satu kesatuan pertunjukan yang utuh.
baca juga; Jenis dan perbedaan tari Bali, fungsi & tempat pementasan
Pola Lantai Gerak Tari Trunajaya
Pola lantai dalam Tari Trunajaya memiliki peran penting dalam membangun alur dramatik dan mempertegas karakter pemuda yang digambarkan dalam tarian ini. Sebagai tari putra keras yang sarat energi, pola lantai Trunajaya tidak bersifat statis, melainkan dinamis, tegas, dan penuh variasi arah. Perpindahan posisi penari, baik maju, mundur, menyamping, hingga berputar—menjadi media visual untuk menyampaikan gejolak emosi, rasa percaya diri, serta ekspresi jiwa muda yang penuh semangat.
Secara umum, pola lantai Tari Trunajaya tersusun dalam beberapa bagian utama, yaitu Pepeson, Pengawak, Pengencet, dan Pekaad. Setiap bagian memiliki fungsi tersendiri dalam membangun struktur pertunjukan, dengan rangkaian gerak dan arah lantai yang saling berkesinambungan.
1. Pepeson
Pepeson merupakan bagian pembukaan yang berfungsi memperkenalkan karakter Tari Trunajaya kepada penonton. Pola lantai pada bagian ini didominasi gerakan maju, menyamping, dan putaran penuh yang menunjukkan sikap percaya diri serta energi awal tarian.
Pada bagian ini, penari berjalan ke depan dengan tangan kiri memegang kancut, sementara tangan kanan dalam posisi sirang susu sambil memegang kipas. Gerak ini menjadi penanda awal kemunculan tokoh pemuda yang siap menunjukkan eksistensinya. Selanjutnya, penari menampilkan agem pokok Trunajaya, dengan tangan kiri mapah biu dan jari-jari ditekuk ke bawah, sedangkan tangan kanan tetap sirang susu.
Pola lantai kemudian berkembang melalui gerakan sledet capung, diikuti ngoyod sambil tangan kanan nabdab gelung. Pergantian agem kanan dan agem kiri dilakukan secara bergantian, menciptakan keseimbangan arah gerak tubuh.
Gerakan nyerigsig, nyegut, sogok kanan-kiri, ngeseh, dan tayung memperlihatkan dinamika lantai yang cepat dan tegas. Pola ini diulang dengan variasi tangan kiri dan kanan, memperkaya ekspresi serta arah pandang penari. Penari juga melakukan tanjek dua kali, putaran penuh, serta gerakan ngeliput dan ngepik yang diarahkan ke pojok kanan panggung.
Rangkaian pepeson ditutup dengan gerakan tangan ke kanan dan kiri disertai mata nyeledet, hentakan kaki, serta ngangsel, ngocok langse, ngegol, dan tayog. Pola lantai semakin aktif dengan gerakan milpil ke kanan dan kiri, hingga akhirnya penari membuang kipas sebagai penanda transisi menuju bagian berikutnya.
2. Pengawak
Pengawak merupakan bagian inti yang berfungsi mengembangkan karakter dan suasana tarian. Pola lantai pada bagian ini cenderung lebih stabil, namun tetap dinamis dengan perpindahan arah kanan dan kiri.
Bagian pengawak diawali dengan agem kiri Trunajaya, dilanjutkan nyerigsig ke kanan dan perpindahan ke agem kanan. Gerakan tayog kanan-kiri disertai ngenjet memperlihatkan kekuatan kaki dan keseimbangan tubuh penari.
Selanjutnya, penari melakukan nyeregseg kanan-kiri dan ngumbang, yang menciptakan kesan mengalir dalam pola lantai. Posisi bersimpuh menjadi kontras dari gerakan sebelumnya, memberikan jeda dramatik sebelum kembali bangkit dengan gerakan tangan ke kanan dan kiri menggunakan kipas, disertai ngeliput dan sledet sebanyak tiga kali.
3. Pengencet
Pengencet berfungsi sebagai bagian klimaks yang menampilkan intensitas emosi dan gerak yang lebih kuat. Pola lantai pada bagian ini menonjolkan gerakan maju, putaran, serta penguasaan ruang yang lebih ekspresif.
Pengencet dimulai dengan penari berdiri sambil ngeliput, diikuti piles kiri-kanan dan agem kanan. Penari kemudian berjalan ke depan, menutup kipas, berputar, lalu membuka kipas kembali sebagai aksen visual yang kuat.
Gerakan dilanjutkan dengan mengambil kancut, kipas kembali ngeliput, disertai ngegol, sledet, mekecos, dan agem kanan. Pola ini diakhiri dengan sledet sebanyak tiga kali, menegaskan karakter keras dan emosional pemuda dalam Tari Trunajaya.
4. Pekaad
Pekaad merupakan bagian penutup yang berfungsi mengakhiri tarian dengan kesan tegas dan mantap. Pola lantai pada bagian ini lebih sederhana namun tetap kuat secara ekspresi.
Penari melakukan ngenjet dan nyeregseg kanan-kiri, kemudian ngumbang sambil memegang kancut. Bagian ini diakhiri dengan agem kanan sambil tetap memegang kancut, sebagai simbol penegasan karakter dan penyelesaian keseluruhan rangkaian gerak Tari Trunajaya.
Sejarah Tari Trunajaya
Sejarah tarian ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika perkembangan seni di Bali Utara pada awal abad ke-20. Kemunculan tarian ini diawali oleh hadirnya Tari Kebyar Legong, sebuah bentuk tarian yang lahir seiring berkembangnya gaya kebyar yang dinamis, ekspresif, dan penuh ledakan energi. Dari lingkungan seni inilah gagasan Tari Trunajaya mulai bertumbuh dan menemukan bentuknya.
Tokoh penting dalam fase awal perkembangan ini adalah seorang seniman asal Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, bernama I Wayan Paraupan, yang lebih dikenal dengan sebutan Pan Wandres. Pada tahun 1915, seniman tabuh dan tari ini menciptakan sebuah tarian yang dibawakan oleh dua orang penari. Karya tersebut merupakan hasil pengolahan dan penggabungan unsur gerak dari beberapa tarian klasik Bali, seperti Tari Baris, Jauk, dan Legong. Perpaduan ini melahirkan sebuah bentuk krasi baru yang menonjolkan gerak keras, ekspresi emosional, serta dinamika tubuh yang kuat.
Dalam perjalanan selanjutnya, Tari Kebyar Legong mengalami perkembangan yang signifikan berkat peran I Gede Manik, seorang seniman besar Bali yang dikenal memiliki kreativitas tinggi dalam mengolah gerak dan iringan gamelan. Bersama pasangannya, Mangku Ongka, I Gede Manik menjadi penari pertama yang membawakan Tari Kebyar Legong. Pengalaman intens dalam membawakan tarian tersebut membentuk kepekaan artistik I Gede Manik sebagai seorang kreator tari.
Pada sekitar tahun 1925, I Gede Manik mulai menunjukkan jati dirinya sebagai pencipta tari. Berangkat dari Tari Kebyar Legong yang kerap ia pentaskan, ia menggagas sebuah karya tari baru yang masih berakar pada gaya kebyar, namun disajikan dalam durasi yang lebih singkat. Meskipun lebih ringkas, tarian ini tetap mempertahankan karakteristik utama kebyar, yakni gerak yang dinamis, enerjik, dan penuh ekspresi. Dari proses kreatif inilah cikal bakal Tari Trunajaya mulai terbentuk sebagai sebuah tari tunggal dengan kekuatan karakter yang menonjol.
lanjut baca; Sejarah Tari Bali: Perkembangan seni sebagai warisan budaya
Momentum penting dalam sejarah Tari Trunajaya terjadi sekitar tahun 1950, ketika tarian ini dipentaskan di hadapan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, beserta para tamu kenegaraan di sebuah hotel di Denpasar. Sajian tarian yang didukung oleh tabuhan gamelan kebyar yang gegap gempita tersebut berhasil memukau Sang Presiden. Soekarno, yang dikenal sebagai sosok pecinta seni dan memiliki ikatan emosional dengan Bali—karena ibunya berasal dari Buleleng—menunjukkan kekaguman yang mendalam terhadap tarian tersebut.
Dalam momen bersejarah itu, Soekarno kemudian memberikan nama “Tarunajaya” pada karya tari ciptaan I Gede Manik dari Desa Jagaraga, Buleleng. Nama Tarunajaya berasal dari kata taruna yang berarti pemuda, dan jaya yang bermakna kejayaan atau kemenangan. Dengan demikian, Tarunajaya dapat dimaknai sebagai gambaran kejayaan seorang pemuda, sesuai dengan karakter dan ekspresi yang ditampilkan dalam tarian tersebut.
Seiring waktu, Tari Trunajaya berkembang menjadi salah satu ikon seni tari Bali Utara dan menjadi kebanggaan masyarakat Buleleng. Pengakuan terhadap nilai budaya tarian ini semakin menguat ketika pada bulan Oktober tahun 2018, Tari Taruna Jaya resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Penetapan ini menjadi bukti bahwa Trunajaya memiliki nilai sejarah, artistik, dan budaya yang tinggi dalam khazanah kebudayaan nasional.
Tidak berhenti sampai di situ, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga mengajukan Tari Taruna Jaya bersama Tradisi Nyakan Diwang sebagai warisan budaya asal Buleleng untuk didaftarkan ke UNESCO. Upaya ini dilakukan sebagai langkah strategis dalam melindungi dan melestarikan budaya lokal Buleleng serta budaya Indonesia secara umum, sekaligus mencegah klaim atau pengakuan dari negara lain.
Dengan perjalanan sejarah yang panjang dan penuh makna, Tari Trunajaya tidak hanya menjadi karya seni pertunjukan, tetapi juga simbol identitas budaya Bali Utara. Keberadaannya hingga kini mencerminkan keberhasilan masyarakat Bali dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai seni tradisi kepada generasi berikutnya.