Sejarah Barong Landung: Akulturasi budaya Tionghoa dan Bali

Pulau Bali dikenal dengan keanekaragaman budaya yang unik dan memukau. Hal ini terlihat dari berbagai jenis tarian tradisionalnya yang mencerminkan warisan budaya luhur yang terjaga dengan baik.

Salah satu tarian yang sangat populer adalah Tari Barong, yang menjadi simbol kecintaan masyarakat Bali terhadap seni. Tari ini memiliki kaitan erat dengan aktivitas spiritual dan sering dijadikan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebuah tarian tradisional Bali yang sering kita saksikan adalah pementasan di kawasan pariwisata seperti Batubulan, Denpasar dan Ubud. Tarian tersebut menggambarkan pertarungan antara dua sifat yang berlawanan, yaitu kebaikan dan keburukan.

baca juga; harga tiket barong di Batubulan

Ini mencerminkan konflik batin manusia, di mana kebaikan melawan sifat buruk sebagai lambang kejahatan. Keunikan tarian ini menjadikannya sebuah seni pertunjukan yang eksotis, sekaligus daya tarik wisata yang memikat pengunjung ke Pulau Dewata untuk menikmati kebudayaan khas Bali.

Masyarakat Bali dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai filosofis kehidupan, yang tercermin dalam adat dan budaya mereka. Seni yang harmonis menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini, sekaligus menjadi bukti adanya akulturasi budaya dengan komunitas lain di Bali, seperti warga Tionghoa. Hubungan ini mencerminkan kerja sama yang penuh makna.

Budaya Bali juga berfungsi sebagai media etika moral yang mempromosikan persatuan dengan ketulusan, sejalan dengan identitas bangsa Indonesia yang terus berkembang menuju masa depan.

Barong Landung

foto: disbud.bulelengkab.go.id

Akulturasi budaya Tionghoa di Bali

Pengaruh akulturasi budaya Tionghoa dalam kehidupan masyarakat Bali terlihat jelas dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan spiritualitas.

Hal ini tampak pada pembangunan arsitektur rumah dan pura. Beberapa pura Hindu Bali terletak di area Kelenteng atau Miao, yaitu kuil untuk upacara keagamaan menurut ajaran Khonghucu. Sebaliknya, ada pula pura di Bali yang mengintegrasikan elemen khas budaya Tionghoa.

Pengaruh tersebut juga hadir dalam sarana persembahyangan seperti penggunaan dupa dan pis bolong, serta dalam berbagai bentuk seni dan budaya. Ini mencakup kuliner, tarian, senjata sakral seperti tombak, golok, panah, atau pedang, hingga seni sastra.

Jejak interaksi budaya ini diperkirakan telah ada di Bali sejak abad ke-8 Masehi. Termasuk juga mengenai keterkaitan sejarah, asal mula dan cerita legenda mengenai keberadaan Barong Landung, yang sekarang ini terdapat di sejumlah tempat di Bali.

Akulturasi budaya Bali dan Tionghoa terlihat melalui Barong Landung, sebuah tarian sakral yang merupakan bagian dari warisan budaya Bali Kuno. Tarian ini memiliki kaitan dengan situs persembahyangan Ratu Ayu Mas Subandar yang berada di kompleks Pura Dalem Balingkang, Bangli.

Palinggih Ratu Ayu Mas Subandar di Pura Dalem Balingkang, Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, merupakan tempat suci yang didirikan untuk menghormati dan memuja permaisuri Raja Jaya Pangus.

Cerita Sejarah dan asal mula Barong Landung di Bali

Hubungan erat antara Barong Landung dan Ratu Ayu Mas Subandar tidak terlepas dari cerita sejarah yang diceritakan secara turun temurun mengenai pernikahan Raja Jaya Pangus. Raja ini, yang memiliki gelar Paduka Sri Maharaja Haji Sayap Angus Arkaja Cihna, merupakan keturunan Dinasti Warmadewa yang pernah memerintah di Desa Pinggan, Kintamani, Bangli.

Pernikahan seorang raja berlangsung dengan seorang putri dari Tiongkok bernama Kang Cing Wei, yang memperoleh gelar kehormatan Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna. Ia adalah putri dari seorang tokoh terkemuka yang dihormati pada masa pemerintahan Kekaisaran Song di abad ke-11 M.

Terdapat berbagai versi cerita terkait pernikahan putri Kang Cing Wei dengan Raja Jaya Pangus, penguasa kerajaan Bali Kuno, serta kaitannya dengan keberadaan Barong Landung yang kini dapat ditemukan di sejumlah pura di Bali.

Salah satu versi menyebutkan bahwa pernikahan Raja Jaya Pangus dan Kang Cing Wei tidak menghasilkan keturunan. Hal ini mendorong sang raja untuk menjalani tapa semadi.

Dalam upayanya, Raja Jaya Pangus melakukan perjalanan ke kawasan Danau Batur di Kintamani. Tujuannya adalah memohon petunjuk dan berkah dari Tuhan agar dapat memperoleh keturunan serta kehidupan yang sejahtera.

baca juga; daya tarik objek wisata Kintamani di Bangli

Tanpa sengaja, dalam perjalanan, sang raja bertemu dengan seorang gadis cantik alami yang ternyata adalah seorang pertapa bernama Dewi Danu.

Pertemuan tersebut membuat keduanya saling jatuh hati sejak pandangan pertama. Mereka pun memutuskan untuk menikah dengan sederhana di kediaman gadis tersebut. Namun, Dewi Danu tidak mengetahui bahwa sang raja sebenarnya telah memiliki istri, sehingga upacara pernikahan berlangsung dengan tenang tanpa hambatan.

Kehidupan mereka berjalan damai di tepi danau, menjalani keseharian layaknya warga biasa.

Setahun kemudian, Ratu Kang Cing Wei mulai gelisah karena sang raja tak kunjung kembali ke istana. Ia akhirnya memerintahkan beberapa prajurit kerajaan untuk menyebar ke seluruh wilayah Bali guna mencari keberadaan sang raja, memastikan apakah ia masih hidup dan dalam kondisi selamat.

Seorang prajurit kerajaan yang dikirim oleh permaisuri berhasil menemukan tempat tinggal baru sang raja yang kini hidup bersama keluarga barunya. Dari pernikahannya dengan Dewi Danu, raja telah dikaruniai seorang anak.

Kabar ini membuat permaisuri terkejut dan sangat kecewa, hingga memicu pertengkaran hebat di antara mereka bertiga. Akibatnya, sang raja dihadapkan pada keputusan sulit: meninggalkan keluarga barunya untuk hidup sebagai rakyat biasa dan kembali ke istana demi bersatu kembali dengan permaisuri.

Dewi Danu merasa dikhianati dan marah karena telah ditipu oleh raja. Dengan hati yang dipenuhi emosi, ia melakukan tapa semedi di tepi Danau Batur. Dalam kemarahannya, ia melayangkan kutukan kepada Raja Jaya Pangus, Kang Cing Wei, dan istana mereka, agar semuanya terbakar dan musnah.

baca juga; sejarah desa Trunyan di Kintamani

Kutukan ini membawa malapetaka besar. Keluarga Raja Jaya Pangus, berikut sang ratu wafat dalam kebakaran dahsyat yang melalap seluruh istana beserta isinya.

Masyarakat yang sangat mencintai raja dan ratu mereka merasa sedih dan memohon kepada Dewi Danu agar mencabut kutukan dan mengembalikan kehidupan sang raja dan ratu seperti sediakala.

Namun, sayangnya, kutukan Dewi Danu tidak dapat dibatalkan meskipun ia merasa iba mendengar permohonan rakyat.

Sebagai solusi, Dewi Danu menyarankan warga Desa Pinggan di wilayah Kintamani, Bangli, untuk membuat dua boneka besar yang dinamai Barong, menyerupai bentuk manusia.

Boneka besar tersebut dibuat dalam dua warna: hitam, mewakili raja sebagai laki-laki, dan putih, mewakili ratu dari Tionghoa sebagai perempuan. Boneka ini dimaksudkan untuk menggantikan kehadiran raja dan ratu mereka yang telah tiada, sehingga tetap hidup di hati rakyat.

Boneka berukuran besar dan sangat tinggi ini kemudian dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Barong Landung. Dari sinilah diyakini munculnya sejarah tari Barong Landung yang kini dapat ditemukan di beberapa pura suci di Bali.

Untuk menghormati keberadaan sang ratu di lingkungan Pura Dalem Balingkang, masyarakat mendirikan sebuah Miao sesuai dengan ajaran aliran kepercayaan Khonghucu.

Miao tersebut dibangun bersama dengan sebuah pelinggih yang memiliki struktur arsitektur khas, dihiasi ornamen bergaya Tionghoa. Saat ini, situs tersebut dikenal dengan nama Ratu Ayu Mas Subandar.

Penghormatan terhadap sang raja dan ratu diwujudkan melalui simbol Barong Landung, yang menjadi elemen penting dalam setiap upacara persembahyangan di tempat ini. Tradisi ini terus dilestarikan agar hubungan spiritualitas yang mendalam tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Sebagai simbol seni akulturasi yang memiliki nilai sakral tinggi, Barong Landung disimpan di area suci dalam Pura dan hanya ditarikan dalam upacara khusus oleh masyarakat Kintamani di Bangli. Upacara ini dilaksanakan setelah melewati proses penyucian dengan air suci umat Hindu Bali, yang disebut tirta, pada hari-hari tertentu yang dianggap suci.

Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Bali melalui ritual arak-arakan Barong Landung. Ritual ini melibatkan pengelilingian sejumlah area sakral dengan tujuan untuk menyeimbangkan dan membersihkan energi negatif, atau dikenal dalam istilah Bali sebagai tolak bala.

Makna dan Filosofis Barong Landung di Bali

Masyarakat Bali sangat menjaga kelestarian Barong Landung serta situs Ratu Ayu Mas Subandar, yang mencerminkan makan atau nilai-nilai filosofis kehidupan dan etika moral. Hal ini menunjukkan keterbukaan masyarakat Bali dalam menerima unsur-unsur spiritual dari peradaban lain, yang kemudian diintegrasikan menjadi spiritualitas yang harmonis dan seimbang.

Tradisi ini telah diwariskan sejak zaman leluhur yang berakar dari wilayah Bangli dan merupakan cikal bakal akulturasi budaya Tionghoa di Bali, sampai saat ini berbagai sarana upacara agama Hindu di Bali masih berhubungan dengan uang kepeng yang berasal dari Tionghoa, begitu juga sejumlah pura tua di Bali terdapat juga pemujaan untuk warga Tionghoa.

Bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama menetap di Bali, hal ini mencerminkan penerapan filosofi inti ajaran Khonghucu, yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan untuk membangun peradaban. Pendekatan ini dilakukan melalui spiritualitas yang luwes dan dapat diterapkan di mana saja, membawa kedamaian serta menciptakan keharmonisan dan ketenangan bagi kehidupan manusia dan seluruh alam semesta.

Barong Landung laki-laki digambarkan dengan rambut hitam panjang terurai, yang melambangkan kehidupan masyarakat Bangli di Bali (khususnya) dan manusia secara umum, yang sering kali sulit melepaskan diri dari rasa emosi, keresahan, dan kebencian.

Sementara itu, yang wujudnya seorang perempuan memiliki rambut panjang yang disanggul rapi, melambangkan ketenangan hati, kesejukan, dan sikap netral dalam menghadapi berbagai bentuk kejahatan dan tantangan hidup.

Mata Barong Landung laki-laki yang besar dan melotot melambangkan kemampuan untuk mengamati dan menilai perilaku baik dan buruk umat manusia.

Sementara itu, mata yang perempuan yang sipit dengan dahi menonjol mencerminkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kemampuan berpikir dengan arif untuk mengambil keputusan yang tepat.

Mulut Barong Landung laki-laki yang lebar dengan gigi taring menggambarkan amarah dan kekuatan, sekaligus simbol kekuasaan.

Sebaliknya, mulut Barong Landung perempuan yang tersenyum lembut melambangkan sifat sabar, budi pekerti halus, dan tutur kata yang lembut.

Warna kulit Barong Landung laki-laki yang hitam dan perempuan yang putih mencerminkan dua sisi yang berlawanan dalam diri manusia. Meskipun bertolak belakang, keduanya harus bersanding untuk menciptakan keseimbangan, keselarasan, dan harmoni dalam kehidupan.

Keberadaan Barong Landung sebagai salah satu seni tradisional masyarakat Bali dan simbol dalam situs persembahyangan Ratu Ayu Mas Subandar mencerminkan pelajaran penting bagi peradaban Indonesia. Seni ini mengajarkan bahwa dua hal yang berbeda sifatnya dapat bersatu untuk menciptakan keharmonisan dan keselarasan.

Keharmonisan tersebut mampu melahirkan karya besar yang berbudaya, berfungsi untuk mencapai ketenangan dan kedamaian, serta menjadi pedoman bagi generasi mendatang.

Nilai-nilai kebaikan yang terus terjaga hingga kini memberikan kekuatan bagi Bangsa Indonesia untuk bertahan dalam situasi sulit, tanpa kehilangan jati diri dan kemuliaan nilai kemanusiaannya.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
URL has been copied successfully!
Scroll to Top